Hamba kecil yang bersembunyi diantara puisi.

Jumat, 19 Maret 2021

(Puisi) Netizen

 NETIZEN


NETIZEN
Dibutakan nafsu buas untuk menghakimi
bunga-bunga indah ditamanku.
Mereka ciut nyali,
Bersembunyi dibalik awanama melontarkan
pujian-pujian yang dibenci tuhan.

Di hamparan gurun tandus aku telantar,
Aku berbicara tetapi mereka tidak mendengar,
Mereka meremehkan dan menertawakan gagasanku:
Karena aku gagal menyusun kata,
Karena aku tidak bisa menjejaki,
Karena aku kandas meyampaikan,
apa yang mereka inginkan.

Share:

Selasa, 09 Maret 2021

(Puisi) Sajak Rasa

 SAJAK RASA


Sajak Rasa

Semakin kesini rasanya semua terasa berat. Ini Bukan masalah hati yang orang-orang sering bicarakan. Bukan masalah pergaulan anak-anak remaja. Bukan pula masalah yang sedang kalian pikirkan. Akhir-akhir ini otakku dikelilingi berbagai pertanyaan yang sulit terjawab.
Dalam hatiku mengadu pada malam:

"Sungguh aku sekuat ini?"

"Apakah hatiku baik-baik saja?"

"Kok bisa merekam sebuah penat dibalik senyum manisku?"

"Sungguh tak perlu orang lain untuk mengertiku?
"

Bulan yang pucat diam tanpa sepatah kata mendengar pertanyaan yang aku uraikan.
Angin malam hanya sayup-sayup menggerakkan daun kering yang berjatuhan.
Disambut lantunan pujian serangga dan binatang malam dengan khidmat.

Wahai
Aku akan baik-baik saja.
Melewati badai api dan segudang duri bunga mawar
menemani langkah-langkah keputusasaan.
Aku tuliskan sajak rasa.
Rasa takut melihat kegelapan.
Rasa marah mengingat sisa waktu.
Rasa gemetar mendengar penghinaan.
Hidup memang fana!
Kadang-kadang aku terbuang ke entah belantara.
Sendirian disana duduk memeluk lutut,
dan menjatuhkan sisa-sisa air mata

Tetapi aku menyadari.
Hidup akan terus berjalan.
Bumi akan selalu berputar pada porosnya dan
nasi goreng tetap enak dimakan saat malam tiba
Mengingat cita-cita dan sepanjang perjuanganku.
Membangunkan kembali gairah semangat.
Alis mengerut.
Mata tajam,
ditambah kepalan tangan.
Siap menerobos realita kehidupan
Karena rasa,
Kita hidup.

Share:

Jumat, 26 Februari 2021

(Puisi) Suwung

 SUWUNG


Suwung

Hujan turun malam ini
Kudengar suara motor serentak menepi
Berhenti,
Sepasang kekasih tak begitu romantis
Mengeluarkan jas hujan yang sedikit koyak
Hanya Satu,
Mereka saling berbagi ruang lalu melanjutkan perjalanan.
Kusadari alangkah sedihnya hidupku
Diingatkan oleh lagu kenangan
Dalam batinku:
Hatimu suwung, kok bisa?
Tapi dipikir seru juga
Tidak repot-repot menanyakan mau kemana hari ini?

Share:

Rabu, 17 Februari 2021

(Puisi) Angin Hujan

 ANGIN HUJAN


Angin Hujan

Wahai angin hujan
Ketuklah pintu kamar kekasihku
Jika ia terlelap selimutilah
Jika belum katakan:
Lekaslah tidur dan bermipi tentang aku

Share:

Senin, 15 Februari 2021

(Puisi) Perpisahan

 PERPISAHAN


Perpisahan

Baru kali ini aku menyukai perpisahan
Bagaimana tidak
Ku kasih segudang cinta
Kau diam tak berkata
Ku kasih setangkai rindu
Kau balas sejumput ragu

Jika kalian tanya mengapa
Ku jawab perpisahan ini harus ada
Sebelum terlalu lama bersama
Sebelum aku dihukum kenangan
Indah bersamanya

Share:

Jumat, 05 Februari 2021

(Puisi) Mau Apa?

 MAU APA?


Mau apa?
Mau apa wahai pemuda indonesia?
merdeka kita nikmati bersama
mau apa generasi penerus bangsa?
keringat gerilya telah tiada
mau apa generasi pembelajar bangsa?
engkau ingin berjihad?
mengusir penjajah yang biadab?
atau menumpahkan darah demi sang saka merah putih?


bukan, bukan itu wahai kawanku
bentangkan sayapmu
menuntun bangsa menuju awan
menghadirkan pengharapan
yang begitu mulia
berisikan karya kita bersama
untuk negeri tercinta

Share:

Rabu, 06 Januari 2021

(Puisi) Lusa

 LUSA


Lusa,
Aku menyadari sebuah penderitaan
Memperjuangkan hati seseorang
Sendirian tanpa teman seperjuangan
Kecewa dan lelah menghiasi perjalanan
Lusa ini, saatnya mengakhiri sebuah perjuangan

Bukan aku tak mencinta
Ku katakan padamu, aku mencintaimu
Sejuta kali sehari
Bukan aku tak perhatian
Ku katakan padamu, aku memperhatikanmu
Tanpa hari libur

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kita
Hanya saja aku jatuh cinta sendirian
Namaku di hatimu tak pernah ada makna
Kamu hanya ingin ditemani
Bukan dilengkapi

Bagaikan pelangi setelah hujan turun
Hadirku hanya sementara
Untuk menghilangkan penatmu
Setelah terhibur kamu beralih dan pergi
Maafkan aku yang berhenti untuk berjuang

Share:

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.

Recent Posts

Unordered List

Theme Support