Hamba kecil yang bersembunyi diantara puisi.

Jumat, 26 Februari 2021

(Puisi) Suwung

 SUWUNG


Suwung

Hujan turun malam ini
Kudengar suara motor serentak menepi
Berhenti,
Sepasang kekasih tak begitu romantis
Mengeluarkan jas hujan yang sedikit koyak
Hanya Satu,
Mereka saling berbagi ruang lalu melanjutkan perjalanan.
Kusadari alangkah sedihnya hidupku
Diingatkan oleh lagu kenangan
Dalam batinku:
Hatimu suwung, kok bisa?
Tapi dipikir seru juga
Tidak repot-repot menanyakan mau kemana hari ini?

Share:

Rabu, 17 Februari 2021

(Puisi) Angin Hujan

 ANGIN HUJAN


Angin Hujan

Wahai angin hujan
Ketuklah pintu kamar kekasihku
Jika ia terlelap selimutilah
Jika belum katakan:
Lekaslah tidur dan bermipi tentang aku

Share:

Senin, 15 Februari 2021

(Puisi) Perpisahan

 PERPISAHAN


Perpisahan

Baru kali ini aku menyukai perpisahan
Bagaimana tidak
Ku kasih segudang cinta
Kau diam tak berkata
Ku kasih setangkai rindu
Kau balas sejumput ragu

Jika kalian tanya mengapa
Ku jawab perpisahan ini harus ada
Sebelum terlalu lama bersama
Sebelum aku dihukum kenangan
Indah bersamanya

Share:

Jumat, 05 Februari 2021

(Puisi) Mau Apa?

 MAU APA?


Mau apa?
Mau apa wahai pemuda indonesia?
merdeka kita nikmati bersama
mau apa generasi penerus bangsa?
keringat gerilya telah tiada
mau apa generasi pembelajar bangsa?
engkau ingin berjihad?
mengusir penjajah yang biadab?
atau menumpahkan darah demi sang saka merah putih?


bukan, bukan itu wahai kawanku
bentangkan sayapmu
menuntun bangsa menuju awan
menghadirkan pengharapan
yang begitu mulia
berisikan karya kita bersama
untuk negeri tercinta

Share:

Rabu, 06 Januari 2021

(Puisi) Lusa

 LUSA


Lusa,
Aku menyadari sebuah penderitaan
Memperjuangkan hati seseorang
Sendirian tanpa teman seperjuangan
Kecewa dan lelah menghiasi perjalanan
Lusa ini, saatnya mengakhiri sebuah perjuangan

Bukan aku tak mencinta
Ku katakan padamu, aku mencintaimu
Sejuta kali sehari
Bukan aku tak perhatian
Ku katakan padamu, aku memperhatikanmu
Tanpa hari libur

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kita
Hanya saja aku jatuh cinta sendirian
Namaku di hatimu tak pernah ada makna
Kamu hanya ingin ditemani
Bukan dilengkapi

Bagaikan pelangi setelah hujan turun
Hadirku hanya sementara
Untuk menghilangkan penatmu
Setelah terhibur kamu beralih dan pergi
Maafkan aku yang berhenti untuk berjuang

Share:

Senin, 21 Desember 2020

(Puisi) IBU

 IBU

Oleh: Benny Yazidul Umam

Gambar dari google.com

Ibuku adalah butiran embun yang menempel di dedaunan
Memberikan kehidupan, menjemput kebahagiaan
Mengasihi senyuman, membersihkan puing-puing reruntuhan dengan hujan

Dengan sajak engkau larutkan mimpi, bu
Terombang ambing dikejar sebuah ilusi
Lembut hati selalu engkau tanamkan pada diri
Meski anakmu tak selalu mengerti.

Saban hari hatiku getir
Menghitung umur yang semakin renta
Tak sanggup aku merasakan,
Memandang pelipis ibu yang kian mengerut

Setiap malam menjelang mimpi
Anakmu selalu memohon kepada pencipta langit
Berikan sebagian umurku kepada ibu, tuhan
Agar aku bisa membalas jasa-jasa ibu
Meski aku tahu, sepanjang umurku tak akan mampu membalas kasih dan sayang ibu kepada anaknya.

Share:

Jumat, 18 Desember 2020

(Prosa) Beruntungnya Teman-Temanku

 Beruntungnya Teman-Temanku



Hai perkenalkan aku mahasiswa baru di Universitas ternama di Jogja. Aku senang bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi meski dalam keadaan sulit. Tidak hanya sulit dari segi ekonomi tapi dimasa pandemi menambah pelik kondisiku saat ini.

Pandemi membuatku runyam untuk menggali pengetahuan. Bosan, letih, pedih yang aku rasakan. Aku terkekang oleh kewajiban yang sangat samar. Membingungkan jika aku selalu bertanya-tanya kepada diriku sendiri, "belajar apa saja sejauh ini? Ah kamu ini hanya bisa mengeluh ditengah kondisi yang pilu."

"Apakah aku tidak boleh mengeluh?"

***
Teman-temanku sangat baik. Meskipun belum pernah bertemu empat mata. Mereka membalas keluh kesahku di media sosial.
"Ayok kamu pasti bisa, semangat."
Kalimat itu seakan membanjiri pikiranku dan membuatku berhenti untuk meringik, setidaknya di dunia maya.

Ditengah pandemi ini rasanya ingin duduk manis mendengarkan kajian yang dosen berikan. Aku ingin ambis. Aku ingin belajar dengan penuh kesunyian. Aku ingin fasilitas belajar yang mendukung. Ruangan dingin, meja dan kursi yang bagus cukup membuatku riang untuk belajar.

Beruntungnya teman-temanku saat pandemi pikiran dan tenaganya hanya untuk menimba ilmu. Aku iri dengan mereka yang bisa fokus dan ambis belajar. Aku tidak bisa seperti mereka karena harus membantu menjadi tulang punggung keluarga, agar mampu bertahan di perguruan tinggi. Aku harus menangkap semua pengetahuan sambil menambah pundi-pundi ekonomi.

Terkadang rasa capek menghampiri. Aku ingin menyerah. Aku dihadapkan oleh dua pilihan. Menyerah belajar agar aku bisa fokus bekerja? atau menyerah bekerja agar fokus belajar? Berhenti bekerja artinya memberhentikan belajarku dan berhenti belajar artinya memberhentikan mimpiku. Cukup! Aku memilih jalan keduanya dan ingin dengan cepat mengakhirinya.

Namun dibalik itu semua aku bersyukur mampu membersamai kondisi ini
Aku bisa menciptakan senyum lebar untuk orang tua
Aku bisa semakin kuat menghadapi kondisi seperti ini selanjutnya
Aku bisa dengan ringan memberi bantuan kepada orang yang membutuhkan.

Mengeluh boleh, tapi setelah itu bangkitlah, karena larut dalam kata sambat membuatmu semakin terpuruk. Lawan apa saja yang menghambatmu. Sedikit demi sedikit akan melihatkan dirimu yang sebenarnya, diri yang kuat, tak kenal kata lelah dan siap menggapai masa depan yang cerah.

Selalu bersyukur dalam kondisi apapun.
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Allah akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya azab Allah sangat pedih." QS. Ibrahim : 7.

Share:

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.

Recent Posts

Unordered List

Theme Support