ANGIN HUJAN
Angin Hujan
Wahai angin hujan
Ketuklah pintu kamar kekasihku
Jika ia terlelap selimutilah
Jika belum katakan:
Lekaslah tidur dan bermipi tentang aku
Hamba kecil yang bersembunyi diantara puisi.
ANGIN HUJAN
Angin Hujan
Wahai angin hujan
Ketuklah pintu kamar kekasihku
Jika ia terlelap selimutilah
Jika belum katakan:
Lekaslah tidur dan bermipi tentang aku
PERPISAHAN
Perpisahan
MAU APA?
Mau apa?
Mau apa wahai pemuda indonesia?
merdeka kita nikmati bersama
mau apa generasi penerus bangsa?
keringat gerilya telah tiada
mau apa generasi pembelajar bangsa?
engkau ingin berjihad?
mengusir penjajah yang biadab?
atau menumpahkan darah demi sang saka merah putih?
bukan, bukan itu wahai kawanku
bentangkan sayapmu
menuntun bangsa menuju awan
menghadirkan pengharapan
yang begitu mulia
berisikan karya kita bersama
untuk negeri tercinta
LUSA
Lusa,
Aku menyadari sebuah penderitaan
Memperjuangkan hati seseorang
Sendirian tanpa teman seperjuangan
Kecewa dan lelah menghiasi perjalanan
Lusa ini, saatnya mengakhiri sebuah perjuangan
Bukan aku tak mencinta
Ku katakan padamu, aku mencintaimu
Sejuta kali sehari
Bukan aku tak perhatian
Ku katakan padamu, aku memperhatikanmu
Tanpa hari libur
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kita
Hanya saja aku jatuh cinta sendirian
Namaku di hatimu tak pernah ada makna
Kamu hanya ingin ditemani
Bukan dilengkapi
Bagaikan pelangi setelah hujan turun
Hadirku hanya sementara
Untuk menghilangkan penatmu
Setelah terhibur kamu beralih dan pergi
Maafkan aku yang berhenti untuk berjuang
IBU
Oleh: Benny Yazidul Umam
Gambar dari google.com
Beruntungnya Teman-Temanku
Hai perkenalkan aku mahasiswa baru di Universitas ternama di Jogja. Aku senang bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi meski dalam keadaan sulit. Tidak hanya sulit dari segi ekonomi tapi dimasa pandemi menambah pelik kondisiku saat ini.
Pandemi membuatku runyam untuk menggali pengetahuan. Bosan, letih, pedih yang aku rasakan. Aku terkekang oleh kewajiban yang sangat samar. Membingungkan jika aku selalu bertanya-tanya kepada diriku sendiri, "belajar apa saja sejauh ini? Ah kamu ini hanya bisa mengeluh ditengah kondisi yang pilu."
"Apakah aku tidak boleh mengeluh?"
***
Teman-temanku sangat baik. Meskipun belum pernah bertemu empat mata. Mereka membalas keluh kesahku di media sosial.
"Ayok kamu pasti bisa, semangat."
Kalimat itu seakan membanjiri pikiranku dan membuatku berhenti untuk meringik, setidaknya di dunia maya.
Ditengah pandemi ini rasanya ingin duduk manis mendengarkan kajian yang dosen berikan. Aku ingin ambis. Aku ingin belajar dengan penuh kesunyian. Aku ingin fasilitas belajar yang mendukung. Ruangan dingin, meja dan kursi yang bagus cukup membuatku riang untuk belajar.
Beruntungnya teman-temanku saat pandemi pikiran dan tenaganya hanya untuk menimba ilmu. Aku iri dengan mereka yang bisa fokus dan ambis belajar. Aku tidak bisa seperti mereka karena harus membantu menjadi tulang punggung keluarga, agar mampu bertahan di perguruan tinggi. Aku harus menangkap semua pengetahuan sambil menambah pundi-pundi ekonomi.
Terkadang rasa capek menghampiri. Aku ingin menyerah. Aku dihadapkan oleh dua pilihan. Menyerah belajar agar aku bisa fokus bekerja? atau menyerah bekerja agar fokus belajar? Berhenti bekerja artinya memberhentikan belajarku dan berhenti belajar artinya memberhentikan mimpiku. Cukup! Aku memilih jalan keduanya dan ingin dengan cepat mengakhirinya.
Namun dibalik itu semua aku bersyukur mampu membersamai kondisi ini
Aku bisa menciptakan senyum lebar untuk orang tua
Aku bisa semakin kuat menghadapi kondisi seperti ini selanjutnya
Aku bisa dengan ringan memberi bantuan kepada orang yang membutuhkan.
Mengeluh boleh, tapi setelah itu bangkitlah, karena larut dalam kata sambat membuatmu semakin terpuruk. Lawan apa saja yang menghambatmu. Sedikit demi sedikit akan melihatkan dirimu yang sebenarnya, diri yang kuat, tak kenal kata lelah dan siap menggapai masa depan yang cerah.
Selalu bersyukur dalam kondisi apapun.
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Allah akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya azab Allah sangat pedih." QS. Ibrahim : 7.
